Pada reaksi SN2 dan SN1, suatu substrat akan
bereaksi dengan suatu reaktan dimana substratnya adalah alkil halida dan
reaktannya adlah nukleofilik. Pada reaktan, reaktan SN2 merupakan nonpolar
sedangkan reaktan SN1 merupakan reaktan polar. Dengan ukuran kepolaran tersebut
kita dapat mengetahui pelarut mana yang digunakan sebagai pelarut dalam reaki
SN2 dan SN1 ini. Jika suatu substrat bersifat nonpolar maka digunakanlah
pelarut polar. Hal ini bertujuan agar alkil halida pada substrat dapat terbebas
karena tidak dikepung oleh zat nonpolar tapi disekelilingnya adalah pelarut
polar. Akibatnya alkil halida dapat bebas dan halngan steriknya rendah. Jika
substrat nonpolar direaksikan dengan pelarut nonpolar maka akan menghalangi
alik halida (X) dan sebaliknya. Ketika substrat melepaskan X (F, Cl, Br, I), X
akan terpolarisasi oleh pelarut polar.Kepolaran suatu pelarut itu disebabkan oleh atom C
primer, sekunder dan tersier (1áµ’, 2áµ’, 3áµ’). Kepolarannya semakin kekanan semakin
polar. Hal ini berarti atom C primer merupakan nonpolar sedangkan atom C
tersier merupakan polar. Makin kompleks suatu senyawa maka akan semakin tidak
polar. Keceapatan reaksi antara SN1 dan SN2 akan dijelaskan berdasarkan gambar
dibawah ini:
A. Karakteristik reaksi SN2
n Sensitif terhadap efek sterik
n Metil halida paling reaktif
n Selanjutnya alkil halida primer adalah yang paling reaktif
n Alkil halida sekunder masih dapat bereaksi
n Yang tersier tidak reaktif
n Tidak terjadi reaksi pada C=C (vinyl halida)
B. Pengaruh reaktan dan tingkat energi
keadaan transisi terhadap kecepatan reaksi
Makin tinggi tingkat energi reaktan
(kurva merah) = reaksi makin cepat (ΔG‡ lebih kecil). Makin tinggi tingkat
energi keadaan transisi (kurva merah) = reaksi makin lambat (ΔG‡ lebih besar)
14 Efek Sterik
dapat ditunjukan dari gambar diatas ditunjukkan bahwa reaksi SN2 memiliki ∆G
yang lebih rendah dari pada reaksi SN1. Hal ini menyebabkan reaksi SN2 lebih
cepat dari pada reaksi SN1. Reaksi SN2 lebih cepat daripada reaksi SN1
dikarenakan dua reaktan dan substrat saling bertumbukan yang menyebabkan energi
aktivasi pada reaksi SN1 yang tinggi dan halangan steriknya rendah. Persamaan laju
reaksinya sebagai berikut :
R= k [R][s]
Pada reaksi SN1 berjalan lambat karena tumbukan yang
terjadi tidak sempurna dan mempunyai halangan sterik yang besar serta nukleofil
baru mulai mengikat reaktan. Persamaan laju reaksinya dapat ditulis sebagai
berikut:
R = k [s]
Efek Sterik reaksi SN2
Atom karbon pada (a) bromometana
siap diakses untuk menghasilkan reaksi SN2 yang cepat. Atom karbon pada (b)
bromoetana (primer), (c) 2-bromopropana (sekunder), dan (d)
2-bromo-2-metilpropana (tersier) adalah lebih sesak, sehingga reaksi SN2 lebih
lambat.
REAKSI ELIMINASI
Pada reaksi eliminasi,
molekul senyawa berikatan tunggal berubah menjadi senyawa berikatan rangkap
dengan melepas molekul kecil. Jadi, eliminasi merupakan kebalikan dari adisi.
- Reaksi Eliminasi Alkil Halida: Aturan Zaitsev
- Eliminasi adalah jalur alternatif ke substitusi
- Berlawanan dengan reaksi adisi
- Menghasilkan alkena
- Dapat berkompetisi dengan substitusi dan menurunkan jumlah produk, khususnya untuk SN
- Reaksi Eliminasi Alkil Halida: Aturan Zaitsev n
Eliminasi adalah jalur alternatif ke
substitusi n Berlawanan dengan reaksi adisi nMenghasilkan
alkena n Dapat berkompetisi dengan substitusi dan menurunkan jumlah
produk, khususnya untuk SN1
- Aturan Zaitsev untuk reaksi Eliminasi n
Pada eliminasi HX dari alkil hali
da, produk alkena yang lebih
tersubstitusi adalah produk yang dominan.
Reaksi Eliminasi dibagi menjadi dua yaitu reaksi E1
dan E2
a. Reaksi E1
(Alkil Halida)
Reaksi E1 adalah reaksi eliminasi dimana suatu
karbokation (suatu zat antara yang tak stabil dan berenergi tinggi, yang dengan
segera bereaksi lebih lanjut) dapat memberikan sebuah proton kepada suatu basa
dan menghasilkan sebuah alkena. Pada reaksi SN1, salah satu cara
karbokation mencapai produk yang stabil ialah dengan bereaksi dengan sebuah
nukleofil. Karbokation adalah suatu zat antara yang tak stabil dan berenergi
tinggi. Karbokation memberikan kepada basa sebuah proton dalam reaksi
eliminasi, dalam hal ini reaksi E1 menjadi sebuah alkena.
Tahap 1
Tahap pertama
dalam reaksi eliminasi adalah tahap lambat dan merupakan tahap penentu laju
dari reaksi keseluruhan. Suatu reaksi E1 yang khas menunjukkan kinetika
order-pertama, dengan laju reaksi hanya bergantung pada konsentrasi alkil
halide saja.
Tahap 2
Dalam tahap
dua reaksi eliminasi, basa itu merebut sebuah proton dari sebuah atom karbon
yang terletak berdampingan dengan karbon positif. Elektron ikatan sigma karbon
hidrogen bergeser ke arah muatan positif, karbon itu mengalami Rehibridisasi
dari keadaan sp3 ke keadaan sp2, dan
terbentuklah alkena. Karena suatu reaksi E1 berlangsung lewat zat antara
karbokation, maka tidak mengherankan bahwa alkil halida tersier lebih cepat
daripada alkil halida lain.
b.
Reaksi E2 (Alkil Halida)
Reaksi E2 (eliminasi bimolekular) ialah reaksi eliminasi alkil halida yang
paling berguna. Reaksi E2 alkil halida cenderung dominan bila digunakan basa
kuat, seperti –OH dan –OR, dan temperatur
tinggi. Secara khas reaksi E2 dilaksanakan dengan memanaskan alkil halida
dengan K+ -OH / Na+ -OCH2CH3 dalam
etanol. Reaksi E2 berjalan tidak lewat suatu karbokation sebagai zat-antara,
melainkan berupa reaksi serempak (concerted reaction)
yakni terjadi pada satu tahap, sama seperti reaksi SN2.
- Basa membentuk ikatan dengan hidrogen
- Elektron-elektron C-H membentuk ikatan pi
- Brom bersama sepasang elektronnya meninggalkan ikatan sigma C-Br
Disini saya masih belum memahami
mengenai reaksi eliminasi Alkil Halida Aturan Zaitsev n. artikel diatas
menjelaskan
Eliminasi adalah jalur alternatif ke
substitusi n Berlawanan dengan reaksi adisi nMenghasilkan
alkena n Dapat berkompetisi dengan substitusi dan menurunkan jumlah
produk, khususnya untuk SN1.
Apakah hanya untuk reaksi SN 1 saja ? Mohon kepada teman teman untuk membantu permasalahan saya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar